Kesalehan Bukan Warisan Darah: Pelajaran Abadi dari Imam Malik dan Nabi Nuh

Friday, 31 October 2025 | 10:12
Kesalehan Bukan Warisan Darah: Pelajaran Abadi dari Imam Malik dan Nabi Nuh

Menanamkan Kesalehan


Di antara kisah para ulama besar, ada satu kisah yang sangat manusiawi, kisah Imam Malik bin Anas, pendiri mazhab Maliki, seorang imam besar yang disegani karena keluasan ilmunya dan keteguhan adabnya.

Namun, di balik kemuliaan ilmunya, tersimpan pelajaran penting tentang realitas pendidikan dan keturunan bahwa kesalehan dan kealiman tidak otomatis diwariskan.

Dua Anak, Dua Jalan Berbeda

Imam Malik memiliki seorang putri bernama Fatimah, seorang wanita cerdas dan beradab tinggi.

Ia hafal seluruh isi Al-Muwaththa’, — karya monumental sang ayah — di luar kepala. Ketika Imam Malik mengajarkan kitab itu kepada murid-muridnya, Fatimah duduk di balik pintu.

Jika ia mendengar bacaan yang keliru, ia mengetuk pintu pelan, pertanda bahwa murid tersebut telah salah.

Bayangkan, seorang wanita, di balik tabir, menjadi penjaga akurasi ilmu ayahnya!

Namun, Imam Malik juga memiliki seorang putra bernama Muhammad, yang justru lebih senang bermain dengan merpati daripada mendalami ilmu.

Betapa banyak orang tua yang bisa memahami perasaan Imam Malik ini, telah menanam nilai dan ilmu dengan cinta, tapi anak berjalan ke arah lain.

Ketika melihat anaknya bermain dengan seekor merpati sambil berlari, Imam Malik hanya tersenyum pahit dan berkata sambil menunjuk,

“Adab adalah karunia Allah. Ini anakku, dan ini putriku.”

Satu kalimat yang sarat makna, kesalehan bukan hasil keturunan, tapi anugerah dan usaha yang dibimbing oleh taufik Allah.

Tugas Kita: Berusaha, Bukan Mengendalikan Hidayah

Tugas orang tua adalah berusaha mendidik, bukan menjamin hasil.

Hidayah bukan di tangan manusia. Bahkan Nabi Nuh — yang 950 tahun berdakwah dengan sabar — tidak mampu menuntun anaknya ke kapal keselamatan.

Ketika beliau memanggil dengan kasih,

“Wahai anakku, naiklah bersama kami!”

Sang anak menjawab,

“Aku akan berlindung ke gunung yang akan melindungiku dari air.”

Ia menolak ajakan ayahnya, bukan karena Nabi Nuh gagal mendidik, tapi karena hidayah itu hak prerogatif Allah.

Sekali Lagi, Yang Dinilai Usaha Bukan Hasil!

Di era modern ini, banyak orang tua mengukur keberhasilan dari “hasil akhir”: nilai sekolah, prestasi, status sosial, atau bahkan seberapa sering anaknya tampil religius di media sosial.

Namun Islam mengajarkan ukuran yang berbeda, nilai terletak pada kesungguhan dalam menanam, bukan pada cepatnya panen.

Kita tidak diminta menjadikan anak kita “seperti kita”, tapi menuntun mereka agar mengenal Rabb yang sama* dengan yang kita sembah.

Kita bukan “pembuat takdir”, hanya “penanam benih”. Biarlah Allah yang menumbuhkan, dengan cara dan waktu yang Ia kehendaki.

Kesalehan Itu Ditanam, Bukan Diturunkan

Jika ada di antara kita yang kecewa karena anak belum menunjukkan tanda-tanda kesalehan, ingatlah: bahkan Imam Malik pun diuji dengan anak yang berbeda arah.

Yang penting, jangan berhenti berdoa, jangan lelah menanam dan jangan putus harapan.

“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.”* (QS. Al-Qashash: 56)

Maka teruslah menjadi orang tua yang berdoa seperti Nabi Ibrahim,

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat...”* (QS. Ibrahim: 40)

Karena *kesalehan bukan warisan darah*, tapi *buah dari doa, usaha, dan rahmat Allah.*

Biat kan judul tulisan di atas yg bagus di publis si web dan carikan kata untuk bana photo untuk menghasilaian ilustrasi/pohoto tentang tema di atas.


Ditulis oleh : ​H. OKTARIZAL FIARDI, Lc., M. Sos (Ketua BKAP DPD PKS Kota Padang)