Mulyadi Tegas: “Kalau Ada yang Ngaku Kader PKS tapi Tidak Peduli, Itu Kader Gadungan”

Friday, 26 December 2025 | 06:16
Mulyadi Tegas: “Kalau Ada yang Ngaku Kader PKS tapi Tidak Peduli, Itu Kader Gadungan”

Di antara sisa lumpur yang belum sepenuhnya kering, di dapur-dapur sederhana yang piringnya masih berdebu, dan di gang-gang kecil yang masih mengendap bau banjir bandang—di sanalah Buya Mulyadi Muslim Dt. Said Marajo Nan Putiah paling sering ditemukan. Bukan hanya sebagai anggota DPRD Kota Padang dari Fraksi PKS, tetapi juga sebagai relawan yang ikut merasakan langsung beratnya beban warga.

Bagi Buya Mulyadi, bencana bukan sekadar laporan angka dan data yang dibahas di ruang sidang. Bencana adalah wajah-wajah lelah para ibu yang kehilangan dapur, para ayah yang kehilangan alat kerja, dan anak-anak yang masih ketakutan setiap hujan turun lebih deras dari biasanya.

“Sudah hampir satu bulan berlalu, tapi saya masih lihat warga membersihkan lumpur dari rumahnya,” tuturnya pelan saat menjadi narasumber Podcast Tamu Kita TribunPadang.com, Kamis (25/12/2025).


Mengawal dari Bawah, Mengawal dari Atas

Dalam setiap kunjungannya, satu hal yang selalu ia pastikan: tidak ada warga yang tertinggal dalam pendataan bantuan.

“Kami memastikan Dinas Sosial dan BPBD memvalidasi data dengan benar. Jangan sampai ada yang luput hanya karena tidak melapor,” katanya.

Baginya, peran relawan dan lembaga legislatif adalah satu kesatuan.

“Sebagai relawan, kita kawal dari bawah. Sebagai anggota DPRD, kita kawal dari atas. Itu tanggung jawab kami,” tegasnya.

Karena di balik tumpukan formulir data korban, ada kehidupan yang benar-benar bergantung pada bantuan.


Peduli Bukan Karena Perintah — Tapi Karena Hati

Sebagai ketua DPD PKS Padang, hampir setiap hari ia melihat kader PKS datang membantu: ada yang membawa nasi bungkus, ada yang membersihkan gorong-gorong, ada pula yang mencuci piring dan alat dapur warga yang tertimbun lumpur.

Itu membuatnya yakin, kepedulian itu bukan sekadar program—melainkan karakter.

“Kalau ada yang ngaku kader PKS tapi tidak peduli melihat tetangganya tertimpa musibah, berarti itu kader gadungan,” ucapnya tegas.

Kalimat itu bukan sekadar kritik, tetapi pengingat bahwa nilai kemanusiaan tidak boleh pernah berhenti.


Bantuan Kini Berubah Bentuk

Saat masa tanggap darurat berlalu, kebutuhan warga ikut berubah. Kini mereka lebih membutuhkan tenaga daripada sekadar sembako.

“Membersihkan rumah, gorong-gorong, piring, kursi, mesin cuci, motor, mobil—itulah yang sekarang paling dibutuhkan,” jelasnya.

Di Nanggalo, puluhan rumah masih ditinggal penghuninya saat relawan bekerja membersihkan sisa lumpur. Sementara di Pauh, sebagian warga masih mengandalkan bantuan nasi karena rumah mereka hanyut atau rusak berat.

Sebagian lagi memilih mengontrak rumah kecil di sekitar lokasi.

“Sekarang yang paling dibutuhkan justru biaya sewa rumah dan modal usaha,” ujarnya lirih.


Tidak Berhenti Hari Ini Saja

PKS, kata Buya Mulyadi, telah menginstruksikan agar kader terus turun membantu warga hingga tiga sampai enam bulan ke depan. Karena bencana tidak selesai ketika air surut—ia baru dimulai saat warga mencoba berdiri kembali.

Dan di situlah, katanya, kemanusiaan diuji. Buya Mulyadi yang hampir di setiap kesempatan juga ikut terjun gotong royong membersihkan lokasi terdampak banjir menyaksikan sendiri bagaimana kerusakan yang ditimbulkan dan bagaimana setiap orang membutuhkan dukungan untuk kembali bangkit dan pulih.

Karena peduli bukan tentang seragam. Bukan pula tentang bendera partai.

Peduli adalah tentang keberanian untuk ikut merasakan sakit orang lain—dan turun tangan meringankannya.


Oleh: Ulul Ilmi