Aleg PKS Ja'far S.HI: Penanganan Banjir Padang Harus Simultan dan Berpihak pada Warga
Anggota DPRD Kota Padang Fraksi PKS Komisi III, Ja’far, S.HI, menegaskan pentingnya penanganan banjir yang dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan, mulai dari wilayah hulu hingga hilir sungai. Hal tersebut disampaikannya dalam rapat koordinasi penanganan banjir antara Pemerintah Kota Padang dan DPRD, yang digelar pada Selasa, 16 Desember 2025.
Dalam rapat tersebut, Ja’far menjelaskan bahwa Batang Kuranji merupakan aliran sungai primer, sementara aliran kecil yang terhubung dengannya, yakni Batang Guo, kini mengalami pelebaran yang signifikan akibat banjir. Kondisi ini telah berdampak langsung terhadap warga di wilayah perbatasan Kecamatan Kuranji dan Gunung Sarik.
“Di Batang Guo saat ini sudah ada sekitar 50 kepala keluarga terdampak, bahkan beberapa rumah hanyut dan kehilangan pondasi sehingga tidak bisa lagi ditempati. Di wilayah perbatasan Kuranji dan Gunung Sarik, terdapat 7 KK terdampak, dan 5 KK di antaranya masih bertahan di musala,” ungkap Ja’far.
Ja’far juga menyampaikan aspirasi masyarakat yang ia himpun langsung di lapangan. Warga, kata dia, menginginkan solusi relokasi yang memungkinkan mereka tetap tinggal di tanah ulayat milik sendiri, bukan dipindahkan ke hunian sementara (huntara) yang lokasinya jauh dari pusat aktivitas keseharian.
“Masyarakat berharap dibangunkan rumah di tanah ulayat mereka. Jika harus di huntara, tentu jaraknya jauh dan akan menyulitkan aktivitas sehari-hari. Data terkait keinginan warga ini siap kita serahkan sebagai bahan pertimbangan,” jelasnya.
Selain di Batang Guo, kerusakan rumah juga terjadi di kawasan Sungai Sapih. Ja’far mengungkapkan telah menerima banyak laporan dari warga melalui pesan pribadi. Sekitar lima rumah berada di tepi sungai dengan pondasi yang sudah tergerus, dan sebagian pemiliknya menyatakan bersedia direlokasi karena rumah mereka tidak lagi layak huni.
“Masalahnya bukan sekadar bersedia pindah, tapi rumah pengganti mereka belum ada. Ini yang perlu segera dicarikan solusi konkret,” tegasnya.
Ja’far juga menyoroti kondisi sungai yang semakin dangkal akibat sedimentasi. Saat ini, tinggi alur sungai di Batang Kuranji dan Batang Guo hanya tersisa 1 hingga 2 meter, padahal sebelumnya mencapai 4 meter. Ia menilai kondisi ini sangat berbahaya, terlebih jika di wilayah hulu masih terdapat pekerjaan yang berpotensi menimbulkan genangan air.
“Kalau penanganan tidak dilakukan secara simultan dari hulu ke hilir, genangan di hulu bisa menjadi ancaman besar saat hujan lebat. Karena itu, perlu penambahan alat berat untuk normalisasi sungai,” ujarnya.
Pernyataan Ja’far ini disampaikan menyusul paparan data dari Pemerintah Kota Padang terkait dampak banjir. Tercatat sebanyak 5.497 rumah terdampak, dengan 397 rumah rusak berat dan 183 rumah hanyut. Pemko Padang berencana merelokasi korban ke hunian sementara dan hunian tetap, namun hingga kini jumlah rusunawa maupun rumah khusus sebagai lokasi relokasi sementara masih belum tersedia.
Ja’far menekankan, kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius semua pihak agar penanganan banjir tidak hanya bersifat darurat, tetapi juga menghadirkan solusi jangka panjang yang adil dan manusiawi bagi para korban.